https://pesonaindonesia.site/ Jawa Timur tidak pernah kehabisan destinasi wisata yang menggabungkan keindahan alam, nilai sejarah, dan spiritualitas. Salah satu destinasi yang menawarkan semua itu adalah Gunung Penanggungan, yang terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan. Gunung ini kerap disebut sebagai “Miniatur Mahameru” karena bentuknya yang kerucut dan kemegahannya yang menyerupai Gunung Semeru, meski dengan ketinggian yang lebih rendah—1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Namun, Gunung Penanggungan bukan hanya sekadar tujuan pendakian. Gunung ini juga merupakan pusat spiritual dan religi sejak era Kerajaan Majapahit, yang menyimpan puluhan situs arkeologi dan candi-candi kecil tersembunyi di lerengnya.
Gunung yang Suci Sejak Zaman Kerajaan
Dalam sejarah Jawa kuno, Gunung Penanggungan dikenal sebagai tempat suci. Gunung ini dipercaya sebagai lokasi para pertapa, petinggi kerajaan, dan tokoh spiritual melakukan tapa brata. Banyak teks kuno seperti Negarakertagama dan Kakawin Arjunawiwaha menyebutkan Penanggungan sebagai tempat spiritual penting.
Kerajaan Majapahit menjadikan gunung ini sebagai tempat pendharmaan atau penghormatan bagi leluhur dan tokoh besar kerajaan. Jejak peninggalan itu masih terlihat dari lebih dari 80 situs purbakala berupa candi, petirtaan (pemandian suci), dan relief batu yang tersebar di sepanjang lereng gunung.
Pendakian yang Menyatu dengan Sejarah
Pendakian ke Gunung Penanggungan menawarkan pengalaman yang berbeda. Selain menikmati jalur menanjak yang cukup menantang namun bersahabat, para pendaki juga akan melewati situs-situs bersejarah yang muncul di balik semak belukar, seolah mengajak kita kembali ke masa lampau.
Terdapat beberapa jalur pendakian utama:
-
Jalur Tamiajeng (Mojokerto): Jalur favorit dengan akses paling mudah dan situs terbanyak.
-
Jalur Jolotundo: Melewati kompleks pemandian kuno dan situs petirtaan suci.
-
Jalur Ngoro dan Wonosunyo: Lebih sepi, cocok untuk pencinta sejarah dan spiritualitas.
Selama perjalanan, pendaki akan bertemu dengan Candi Belahan, Candi Kendalisodo, Candi Sinta, Candi Lurah, Petirtaan Jolotundo, dan masih banyak lainnya. Semua candi ini memiliki gaya arsitektur Majapahit dan seringkali masih digunakan oleh masyarakat untuk ritual keagamaan.
Panorama Alam yang Mempesona
Meskipun tidak terlalu tinggi, puncak Gunung Penanggungan menawarkan panorama 360 derajat yang luar biasa. Dari atas, kita bisa melihat Gunung Arjuno, Welirang, dan bahkan jika cuaca cerah, puncak Gunung Semeru di kejauhan.
Waktu terbaik untuk mendaki adalah sore hari, mendirikan tenda di Sabana atau Lembah Sriti, dan menikmati sunrise keesokan paginya dari puncak. Langit oranye keemasan berpadu dengan hamparan kabut tipis dan siluet candi menciptakan suasana yang magis—tidak kalah indah dengan gunung-gunung besar lainnya di Indonesia.
Wisata Religi: Pemandian Suci & Upacara Adat
Salah satu daya tarik religius utama di kaki Gunung Penanggungan adalah Petirtaan Jolotundo, sebuah kompleks pemandian air suci yang dibangun pada abad ke-10 oleh Raja Udayana untuk putranya, Airlangga. Air dari mata air Jolotundo dipercaya memiliki unsur spiritual dan khasiat penyembuhan.
Hingga kini, setiap tahun tempat ini menjadi lokasi upacara adat dan spiritual, terutama pada peringatan Hari Raya Nyepi dan Waisak. Banyak umat Hindu dan spiritualis Jawa datang untuk mandi suci (melukat), meditasi, atau berdoa di tempat ini.
Atmosfernya sangat damai, dengan suara gemericik air dan aroma dupa yang khas. Bagi wisatawan yang menghargai budaya dan spiritualitas, tempat ini memberikan pengalaman religius yang mendalam.
Warisan Budaya dan Arkeologi yang Terjaga
Penanggungan tidak hanya penting secara spiritual, tetapi juga arkeologis. Banyak arkeolog dan mahasiswa sejarah menjadikan gunung ini sebagai lokasi riset karena kelengkapan situs-situsnya yang tersebar di berbagai ketinggian.
Uniknya, banyak situs yang belum sepenuhnya dieksplorasi atau ditata ulang oleh pemerintah. Hal ini menimbulkan dua sisi mata uang: di satu sisi, keasliannya masih terjaga, namun di sisi lain rentan terhadap kerusakan atau penjarahan jika tidak dijaga.
Beberapa komunitas lokal dan pecinta sejarah secara sukarela menjaga dan membersihkan situs-situs ini. Jika Anda beruntung, Anda bisa bertemu dengan para relawan yang bisa menjelaskan latar belakang setiap situs secara detail.
Tips Berwisata ke Gunung Penanggungan
Jika Anda tertarik menjelajahi Gunung Penanggungan baik sebagai pendaki, pencinta sejarah, maupun peziarah spiritual, berikut beberapa tips:
-
Gunakan alas kaki yang nyaman dan anti-selip. Jalur pendakian cenderung curam dan berdebu.
-
Bawa air minum cukup. Sumber air hanya tersedia di kaki gunung.
-
Hormati situs-situs sejarah. Jangan duduk di atas candi atau meninggalkan sampah.
-
Datang pagi atau sore. Hindari terik siang dan potensi kabut tebal di malam hari.
-
Gunakan pemandu lokal. Untuk pengalaman sejarah dan religi yang lebih mendalam.
Akses dan Fasilitas Wisata
Gunung Penanggungan mudah diakses dari Surabaya maupun Malang. Jarak dari kota Mojokerto sekitar 1 jam berkendara. Jalur pendakian Tamiajeng dan Jolotundo memiliki fasilitas dasar seperti:
-
Tempat parkir
-
Warung makan
-
Toilet umum
-
Area camping sederhana
Namun, jangan berharap fasilitas modern seperti hotel atau resort. Tempat ini lebih cocok untuk wisatawan mandiri, pecinta alam, dan pelancong spiritual.
Penutup: Gunung yang Menyatukan Langit dan Bumi
Gunung Penanggungan bukan hanya tempat untuk mendaki atau berswafoto. Ia adalah perpaduan langka antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan kedalaman spiritualitas Jawa. Dari puncaknya, Anda tidak hanya melihat hamparan awan, tetapi juga merasakan warisan leluhur yang masih hidup hingga hari ini.
Bagi siapa pun yang mencari pengalaman berbeda—yang tak hanya melelahkan tubuh tapi juga menyejukkan jiwa—Gunung Penanggungan di Mojokerto adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan. Di sana, waktu seolah berhenti, memberi ruang bagi kita untuk melihat jauh ke dalam, sekaligus ke masa lampau yang agung.
Baca juga https://angginews.com/








