https://pesonaindonesia.site/ Di antara hamparan hijau sawah dan latar megah Gunung Merapi dan Merbabu, berdiri sebuah desa yang tenang dan mempesona β Desa Wisata Candirejo. Terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, desa ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan sebuah ruang hidup di mana alam dan tradisi berpadu dalam harmoni yang indah.
Candirejo menjadi simbol dari semangat masyarakat pedesaan yang ingin melestarikan budaya leluhur tanpa kehilangan langkah dalam arus modernisasi.
π³ 1. Sekilas Tentang Desa Wisata Candirejo
Desa Candirejo berjarak hanya sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur, menjadikannya salah satu desa wisata penyangga yang paling populer di kawasan tersebut.
Namun, berbeda dari keramaian kompleks candi, Candirejo menawarkan suasana pedesaan yang damai, udara bersih, dan kehidupan masyarakat yang masih sangat dekat dengan tradisi.
Program Desa Wisata Candirejo resmi dibentuk sekitar tahun 2003 melalui inisiatif warga yang ingin menjaga potensi budaya dan alamnya dari degradasi pariwisata massal.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan berbagai lembaga, mereka kemudian mengembangkan konsep ekowisata berbasis masyarakat (community-based tourism) β di mana warga menjadi tuan rumah sekaligus pelaku utama dalam setiap kegiatan wisata.
Kini, Candirejo menjadi contoh sukses pariwisata berkelanjutan di Indonesia, dan bahkan menjadi model pembelajaran bagi banyak desa wisata lainnya.
π 2. Menyusuri Desa dengan Andong dan Sepeda Onthel
Salah satu pengalaman paling menyenangkan di Desa Candirejo adalah menyusuri jalan desa dengan andong atau sepeda onthel.
Dengan laju yang pelan, kamu bisa menikmati pemandangan sawah hijau, rumah-rumah tradisional berarsitektur Jawa, dan aktivitas warga yang bekerja di ladang.
Andong di Candirejo bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kearifan lokal. Kusir akan menceritakan kisah-kisah desa, sejarah, dan legenda yang hidup di sekitar Borobudur.
Bagi wisatawan yang ingin lebih aktif, sepeda onthel menjadi pilihan ideal β selain ramah lingkungan, juga memberi kesempatan untuk berhenti sejenak di berbagai titik menarik.
Beberapa rute wisata populer meliputi kunjungan ke:
-
Sungai Progo, tempat warga memancing dan mandi sore.
-
Kebun buah dan sayur organik milik kelompok tani desa.
-
Pusat kerajinan tangan, seperti anyaman bambu dan batik tulis khas Candirejo.
Setiap langkah di desa ini terasa menghubungkan kita dengan ritme kehidupan yang lambat dan damai β sesuatu yang semakin langka di dunia modern.
π 3. Homestay: Menginap di Rumah Warga, Merasakan Kehangatan Sejati
Berbeda dengan hotel konvensional, Desa Candirejo menawarkan pengalaman homestay, di mana wisatawan tinggal bersama keluarga lokal.
Konsep ini bukan hanya soal tempat menginap, tapi tentang berbagi kehidupan.
Kamu akan bangun pagi dengan aroma kopi tubruk buatan ibu rumah, menikmati sarapan nasi jagung atau pecel daun singkong, lalu berbincang santai di beranda rumah.
Malam hari, suara jangkrik dan bintang di langit menemani istirahatmu.
Pengalaman ini membuat wisatawan tidak hanya menjadi tamu, tetapi juga bagian dari keluarga. Banyak yang mengatakan, tinggal di Candirejo membuat mereka βpulangβ β meski ke tempat yang sebelumnya belum pernah mereka datangi.
Selain itu, pendapatan dari homestay menjadi sumber ekonomi yang langsung dirasakan oleh warga. Setiap rumah bergiliran menerima tamu, memastikan kesejahteraan tersebar merata.
π 4. Tradisi dan Budaya yang Tetap Hidup
Salah satu pesona utama Desa Candirejo adalah tradisi Jawa yang masih dijaga dengan teguh.
Setiap bulan, ada berbagai kegiatan budaya yang bisa disaksikan atau bahkan diikuti wisatawan.
Beberapa di antaranya adalah:
-
Upacara Nyadran, ritual penghormatan leluhur menjelang Ramadan.
-
Kenduri desa, doa bersama untuk memohon keselamatan dan berkah panen.
-
Kesenian tradisional, seperti gamelan, jathilan, dan tembang Jawa yang dimainkan oleh warga.
Menariknya, wisatawan juga bisa belajar memainkan gamelan atau menari bersama kelompok seni desa.
Melalui pengalaman ini, pengunjung tidak hanya melihat budaya sebagai tontonan, tapi ikut menjadi bagian dari pelestariannya.
Selain itu, warga Candirejo memiliki filosofi hidup yang disebut βurip rukun lan prasajaβ β hidup sederhana dan saling menghormati.
Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi utama mengapa Candirejo bisa menjadi desa wisata yang berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
πΎ 5. Alam yang Subur dan Menyatu dengan Kehidupan
Candirejo tidak hanya kaya budaya, tetapi juga dianugerahi alam yang subur dan indah.
Di sela-sela kunjungan budaya, wisatawan bisa mengikuti berbagai kegiatan alam seperti:
-
Menanam padi bersama petani.
-
Menyusuri sungai dengan perahu kecil.
-
Memetik buah musiman seperti rambutan, mangga, atau salak.
-
Belajar membuat pupuk organik dari bahan alami di kebun desa.
Kegiatan ini bukan hanya atraksi wisata, melainkan sarana edukasi untuk mengenalkan pentingnya pertanian berkelanjutan dan keseimbangan alam.
Banyak wisatawan mancanegara yang terkesan dengan cara warga Candirejo menjaga tanah dan air β tanpa alat berat, tanpa bahan kimia berlebih, hanya dengan kerja keras dan kearifan lokal.
β 6. Cita Rasa Kuliner Tradisional
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Candirejo tanpa menikmati kuliner khas desa.
Hidangan di sini disiapkan langsung oleh warga, menggunakan bahan segar dari kebun mereka sendiri.
Beberapa menu yang paling disukai antara lain:
-
Sayur lodeh krecek β gurih dengan santan dan cabai pedas.
-
Nasi megono, nasi dengan tumisan nangka muda khas Jawa Tengah.
-
Wedang jahe dan kopi tubruk β teman sempurna untuk menikmati sore di bawah pohon jambu.
Semua disajikan dengan keramahan yang membuat siapa pun merasa seperti di rumah sendiri.
π 7. Pariwisata Berkelanjutan dan Peran Masyarakat
Keberhasilan Desa Candirejo tidak datang dari investasi besar atau promosi masif, melainkan dari gotong royong dan kesadaran bersama.
Seluruh warga terlibat dalam mengelola pariwisata β mulai dari pemandu wisata, pemilik homestay, hingga petani dan perajin.
Pendekatan ini membuat Candirejo tidak hanya cantik secara fisik, tapi juga kuat secara sosial dan ekonomi.
Mereka membuktikan bahwa pariwisata tidak harus merusak, melainkan bisa menjadi sarana untuk melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Bahkan, beberapa universitas dan lembaga internasional menjadikan Candirejo sebagai contoh praktik pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di tingkat Asia Tenggara.
π 8. Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Waktu terbaik mengunjungi Candirejo adalah antara April hingga September, saat cuaca cerah dan sawah menghijau.
Namun, pada bulan-bulan tertentu seperti Mei atau Agustus, wisatawan juga bisa menyaksikan berbagai festival budaya yang diadakan warga.
Berwisata ke Candirejo tidak membutuhkan biaya besar, tapi membawa pulang pengalaman yang sulit dilupakan β ketenangan, keramahan, dan pelajaran hidup tentang kesederhanaan.
π« Penutup: Sebuah Harmoni yang Menginspirasi
Desa Wisata Candirejo bukan sekadar destinasi, melainkan cermin kehidupan yang selaras dengan alam dan budaya.
Setiap senyum warga, setiap suara gamelan yang mengalun lembut, dan setiap langkah di jalan tanah desa, mengingatkan kita bahwa keindahan sejati lahir dari keseimbangan antara manusia dan lingkungannya.
Di Candirejo, kita belajar bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi, dan modernitas bisa berjalan seiring dengan pelestarian.
Karena di sini, alam dan manusia saling menjaga β dalam harmoni yang indah dan abadi.
Baca juga https://dunialuar.id/








